21 Januari 2023




Sebenarnya hanya tetang anak kecil yang sekarang pasti dah beda.... 

Mendadak membaca sebuah NOVELET di th 2018 lalu

SECANGKIR KOPI KENTHAL

Seperti pagi-pagi biasanya, saat mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke kantor, setiap sinang mulai berangkat mandi, mulailah remote TV bisa kami kuasai. Ya, karena memang sudah menjadi rutinitas, Sinang selalu mandi paling akhir, setelah sebelumnya belajar (kalau belajar) atau memang hanya menunggu waktu sampai saat sarapan pagi sambil buka Upin Ipin, atau Masha and the Bear. Nah disaat mandi itulah walau sejenak, segera aku pilih chanel INDOSIAR, ya hanya satu-satunya waktu pagi itu saja yang aku melirik stasiun TV ini. Ketika itu Aku berdua pasti sudah siap dan sambil memastikan hal-hal penyempurna kerja, aku menikmati sajian Mama dan AA beraksi.

Tema pagi itu ternyata CEMBURU MEMBAWA PETAKA. Biasanya pada saat itu tinggal pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah dan pembahasannya. Kadang ada yang lucu, ada yang pas dengan suasana dan yang pasti banyak hikmah-hikmah di sana tentunya.

Sinang selesai mandi, mempersiapkan diri dan seperti biasa juga kadang juga melibatkan diri pada apa yang ditonton bapak ibunya, disamping memang kadang ada gelak tawa juga dalam sajian tersebut.

Tentu ada hal-hal yang menarik, menjadi hal baru, dan kadang pula bertanya ingin memperjelas persoalan kepada bapak ibunya.

Seperti pagi itu, maka aku dan ibunya kadang turut tertawa menikmati acara itu, oh ternyata seperti itu, seperti ini.

Tidak jarang pula pertanyaan-pertanyaan sinang ini di satu sisi akan memposisikan aku sebagai Bapak menjadi pihak pemenang, atau lebih tepatnya pihak yang merasa jadi “bangga”, atau kadang ibunya yang ada di posisi tersebut, tapi tak jarang juga dia sendiri sebagai anak merasa berada pada posisi tersebut. Yah, karena memang banyak hal yang kadang dibahas didalamnya tentu ada kewajiban sebagai orang tua, anak dan banyak lagi.

Pada tema kali ini, memang ada di bahas bahwa dalam islam disyariatkan menikah itu bisa dua, tiga, empat istri. Entahlah apa yang paling menyentuh dalam ingatan dan pemahamannya, ketika dia dan ibunya sudah siap berangkat, sambil berjalan dia mulai mengajukan pertanyaan

“Buk, nek menikah ki dapat pahala ya...?”

“Dapat nang ... “ (memang demikian merujuk dari pembahasan barusan)

“Bapak menikah, berarti yo dapat pahala ya pak, ....... bapak menikah neh wae pak, kan pahalane tambah.......”

Entah apa yang terlintas dalam suasana kala itu, tanpa waktu lama, benar-benar cepat, sudah ada yang menjawab

“Jelas nang..........tambah pahalane...”

Lantang sekali, kupikir suara siapa, eh.....ternyata suaraku.

“Kan nek nikah maneh berarti pahalane bertambah.....” sinang melanjutkan lagi

“La yen nikah maneh, sinang manggile apa nang.?”

“Ya ibuk ta....”

Ah ada-ada saja, gelak tawa lepas aku dan ibunya tak terbendung mengiringi dia naik ke motor.

SIAPA YANG ADA DI POSISI PEMENANG..?

Nggak tahu.......

Tidak ada komentar: