02 Maret 2023

 

Aku masih ingat betul, ketika suka mengaca, memandang wajah sendiri di "liontin" ibu. Nyaring suara SINGER, mesin jahit di belakang itu pun masih menggema dalam sadarku hingga kini.
Masih hafal sekali warna gelap sweater bapak, masih ingat betul kuning alas meja dan warna merah gambar buahnya. Masih ingat betul memainkan Jeep ku di lengan kursi yang melandai mengibaratkan tanjakan di timur desa, satu-satunya tanjakan yang aku kenal dan hafal masa itu.
Suka melihat mobil yang hilang di turunannya, setiap kali main di rumah budhe.
Dari tujuh di gambar ini kini tinggal bertiga yg masih bisa bertukar sapa, berbaur tawa.
Satu.... satu.... satu..... dan pasti......
Dan.... Kini, tulisan mendadak tak terbaca untuk dituliskan lagi.... Terhablur mata oleh air yg tetiba menggenang......
Kubiarkan rasa itu meraja walau sesaat, sedih namun bahagia....
Kalian ada untuk aku hingga bisa seperti saat ini....


Pernahtah Anda dihadapkan pada pertanyaan atau pernyataan “Itu kan karena kamu pada posisi dan suasana itu, sehingga kamu bisa berkata begitu.”

Walaupun tidak pernah mendengar sendiri, tapi rasa diri kadang seperti itu.
Betapa kadang merasa tahapan kita di titik sekarang adalah tak seberapa dibanding yang lain.
Apapun itu. Keilmuan, Kedudukan, pun Mungkin “kemudahan hidup”.
Tapi percayalah, kita tidak pernah tahu keirian apa yang tidak mereka syiratkan atas kita dengan apapun keadaan kita sekarang, yang mereka merasa tidak memilikinya.
Mungkin akan dianggap salah jika seseorang stagnan pada kondisinya, sementara bagi dia itu adalah sikap istiqomah dan bersyukur atas apa yang sudah diterima.
Mungkin akan dianggap salah pula jika dia “nyaman” dengan kesyukurannya. Karena ada kata kata Zona Nyaman yang jika dirasakan, banyak yang akan mencibir dan berkonotasi negatif dengan istilah “bertahan di zona nyaman”.
Nah mencoba memposisikan kalimat itu pada tempatnya, silakan kalian gunakan kalimat itu untuk terus mengejar apa yang Anda rasa perlu dikejar, sehingga anda mengkonotasikan kalimat itu sebuah kemunduran dan memicu anda untuk maju.
Sementara biarkan sebagian yang lain mengkonotasikan itu untuk suasana selalu bersyukur dan menerima apa yang telah diberikan, karena mereka nyaman di dalam zona itu.
Sudah merasa cukup.
Nah kalimat ini pun tentu banyak yang mengkonotasikan sebagai hal negatif, sikap yang tak menyiratkan semangat maju.
Itulah muhasabah diri yang dimaksud, kita tidak bisa mematri suatu sikap sebagai kebenaran, karena masing-masing memiliki cara pandang.
Begitupun kalimat-kalimat ini. Mungkin Debatable, Ambivalen, atau Bias, Hablur, Tidak Jelas, Available, Dissable, Enable... Laah... malah mulai ada kata-kata yang ngaco.
Yang benar adalah, ini hanyalah kata kata yang terbersit saat hendak bebersih loteng, catat, bukan lantai 2, tapi hanya loteng, dan ketika itu berdiri di trap transisi antara anak tangga naik dan anak tangga turun.
Bahwa, masih ada anak tangga di atasku, sementara ada pula anak tangga di bawahku. Dan aku nyaman di area transit ini. Bersyukur bisa istirahat di area yang tidak luas ini, tapi CUKUP untuk bersila, bersujud dan menengadahkan tangan.

21 Januari 2023




Sebenarnya hanya tetang anak kecil yang sekarang pasti dah beda.... 

Mendadak membaca sebuah NOVELET di th 2018 lalu

SECANGKIR KOPI KENTHAL

Seperti pagi-pagi biasanya, saat mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke kantor, setiap sinang mulai berangkat mandi, mulailah remote TV bisa kami kuasai. Ya, karena memang sudah menjadi rutinitas, Sinang selalu mandi paling akhir, setelah sebelumnya belajar (kalau belajar) atau memang hanya menunggu waktu sampai saat sarapan pagi sambil buka Upin Ipin, atau Masha and the Bear. Nah disaat mandi itulah walau sejenak, segera aku pilih chanel INDOSIAR, ya hanya satu-satunya waktu pagi itu saja yang aku melirik stasiun TV ini. Ketika itu Aku berdua pasti sudah siap dan sambil memastikan hal-hal penyempurna kerja, aku menikmati sajian Mama dan AA beraksi.

Tema pagi itu ternyata CEMBURU MEMBAWA PETAKA. Biasanya pada saat itu tinggal pertanyaan-pertanyaan dari para jamaah dan pembahasannya. Kadang ada yang lucu, ada yang pas dengan suasana dan yang pasti banyak hikmah-hikmah di sana tentunya.

Sinang selesai mandi, mempersiapkan diri dan seperti biasa juga kadang juga melibatkan diri pada apa yang ditonton bapak ibunya, disamping memang kadang ada gelak tawa juga dalam sajian tersebut.

Tentu ada hal-hal yang menarik, menjadi hal baru, dan kadang pula bertanya ingin memperjelas persoalan kepada bapak ibunya.

Seperti pagi itu, maka aku dan ibunya kadang turut tertawa menikmati acara itu, oh ternyata seperti itu, seperti ini.

Tidak jarang pula pertanyaan-pertanyaan sinang ini di satu sisi akan memposisikan aku sebagai Bapak menjadi pihak pemenang, atau lebih tepatnya pihak yang merasa jadi “bangga”, atau kadang ibunya yang ada di posisi tersebut, tapi tak jarang juga dia sendiri sebagai anak merasa berada pada posisi tersebut. Yah, karena memang banyak hal yang kadang dibahas didalamnya tentu ada kewajiban sebagai orang tua, anak dan banyak lagi.

Pada tema kali ini, memang ada di bahas bahwa dalam islam disyariatkan menikah itu bisa dua, tiga, empat istri. Entahlah apa yang paling menyentuh dalam ingatan dan pemahamannya, ketika dia dan ibunya sudah siap berangkat, sambil berjalan dia mulai mengajukan pertanyaan

“Buk, nek menikah ki dapat pahala ya...?”

“Dapat nang ... “ (memang demikian merujuk dari pembahasan barusan)

“Bapak menikah, berarti yo dapat pahala ya pak, ....... bapak menikah neh wae pak, kan pahalane tambah.......”

Entah apa yang terlintas dalam suasana kala itu, tanpa waktu lama, benar-benar cepat, sudah ada yang menjawab

“Jelas nang..........tambah pahalane...”

Lantang sekali, kupikir suara siapa, eh.....ternyata suaraku.

“Kan nek nikah maneh berarti pahalane bertambah.....” sinang melanjutkan lagi

“La yen nikah maneh, sinang manggile apa nang.?”

“Ya ibuk ta....”

Ah ada-ada saja, gelak tawa lepas aku dan ibunya tak terbendung mengiringi dia naik ke motor.

SIAPA YANG ADA DI POSISI PEMENANG..?

Nggak tahu.......