
Besar karena persahabatan dan tumbuh dalam persahabatan.
Orok bermakna bayi dalam terminologi bahasa Indonesia. Bayi yang baru saja dilahirkan dan padanya belum ternoda oleh segala pikiran-pikiran ataupun konsep-konsep hidup dari luar, selain hanya apa yang telah ditetapkan atasnya oleh sang Pencipta, dan tentu saja itu semua menjadi misteri bagi manusia.
Orok kami ambil sebagai nama bukan mengambil dari terminologi tentang bayi itu sendiri.
Orok memang sudah terlahirkan.
Terlahir oleh “perkawinan” pemikiran sahabat-sahabat yang ingin mengaktualisasikan kebisaan masing-masing dalam wadah aktifitas bersama.
Orok, kini bukannya tidak ada, namun karena prestasi para sahabat ini yang mengharuskan anggotanya sibuk dengan dunianya.
Dan kini , didorong semangat yang pernah menggelora dan cukup memberi warna di lingkungan kami, ingin rasanya nama ini bergaung kembali, apapun bidangnya.
Sebagai salah satu bagian dari Orok, dengan kemampuan yang ada pada kami, maka saat ini ingin rasanya Orok bergema, dan terlahir kembali.
Stempel merupakan salah satu bidang yang saat terlahirnya Orok menjadi sangat dominan mewarnai aktivitasnya di kota Boja dan sekitarnya. Berawal dari nama RAGIL, mengambil dari status saya sendiri sebagai bungsu dari enam bersaudara.
Pada masanya stempel Ragil menjadi satu-satunya pusat jasa pembuatan stempel di kota Boja. Pada waktu itu pengerjaan masih menggunakan sistem manual, yaitu dengan tehnik kriya, memahatkan mata pisau pada selembar karet, menurutkan garis-garis yang membentuk pola, baik itu berupa tulisan ataupun gambar/logo.
Bukan pekerjaan mudah untuk saat itu, sehingga tidak berlebihan kiranya dalam pembuatan sebuah stempel bukan hanya dibutuhkan ketelatenan dari pembuatnya, namun lebih dari itu, rasa serta harmonisasi antar unsur yang ada dalam rangkaian stempel menjadi sangat dibutuhkan.
Jika dalam sebuah setempel dengan corak dasar berupa tulisan, mungkin lebih mudah. Ya, mudah memang, mungkin banyak jasa yang bisa memberikan layanan itu. Apa yang membedakan? adalah kehalusan serta keluwesan huruf-huruf yang tergores padanya.
Terlebih lagi bila format dasarnya adalah GAMBAR dan LOGO yang pada umumnya sangat membutuhkan komposisi dan perpaduan lengkungan garis serta bidang gelap terang yang akan menjadi unsur utama keindahan dalam sebuah setempel.
Kini, setelah era mulai berkembang, hampir-hampir kemampuan olah grafis dan gambar dalam diri seseorang tidak lagi banyak dibutuhkan, tidak lagi menjadi syarat utama seseorang untuk menjadi pembuat setempel. Di era digital, semua tuntutan itu hampir bisa di manipulasi oleh komputer.
Saya katakan hampir-hampir karena memang tidak sepenuhnya hal itu bisa difasilitasi dengan komputer. Sekali lagi untuk masalah rasa dan harmonisasi saya pikir masih sangat berperan.
Sebagai gambaran untuk masalah ini kita di era komputer dapat menentukan dengan besaran angka-angka digital, namun tentu tidak sembarang menentukan angka digital. Kita tetap perlu merasakan baru kita tentukan besaran digital tersebut, maka komputer sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan kita akan kita peroleh.
Kini dengan semangat baru, Setempel Orok kembali hadir dengan langkah-langkah pendekatan sistem digital. Sistem manual harus ditinggalkan, saat sekaranglah rasa dan harmonisasi tersebut dituangkan dan disenyawakan dalam nafas digital.
Akhirnya ...... siapa pesan - siapa pesan yo......
Par
a personel Orok

Terlahir oleh “perkawinan” pemikiran sahabat-sahabat yang ingin mengaktualisasikan kebisaan masing-masing dalam wadah aktifitas bersama.
Orok, kini bukannya tidak ada, namun karena prestasi para sahabat ini yang mengharuskan anggotanya sibuk dengan dunianya.
Dan kini , didorong semangat yang pernah menggelora dan cukup memberi warna di lingkungan kami, ingin rasanya nama ini bergaung kembali, apapun bidangnya.
Sebagai salah satu bagian dari Orok, dengan kemampuan yang ada pada kami, maka saat ini ingin rasanya Orok bergema, dan terlahir kembali.
Stempel merupakan salah satu bidang yang saat terlahirnya Orok menjadi sangat dominan mewarnai aktivitasnya di kota Boja dan sekitarnya. Berawal dari nama RAGIL, mengambil dari status saya sendiri sebagai bungsu dari enam bersaudara.
Pada masanya stempel Ragil menjadi satu-satunya pusat jasa pembuatan stempel di kota Boja. Pada waktu itu pengerjaan masih menggunakan sistem manual, yaitu dengan tehnik kriya, memahatkan mata pisau pada selembar karet, menurutkan garis-garis yang membentuk pola, baik itu berupa tulisan ataupun gambar/logo.
Bukan pekerjaan mudah untuk saat itu, sehingga tidak berlebihan kiranya dalam pembuatan sebuah stempel bukan hanya dibutuhkan ketelatenan dari pembuatnya, namun lebih dari itu, rasa serta harmonisasi antar unsur yang ada dalam rangkaian stempel menjadi sangat dibutuhkan.
Jika dalam sebuah setempel dengan corak dasar berupa tulisan, mungkin lebih mudah. Ya, mudah memang, mungkin banyak jasa yang bisa memberikan layanan itu. Apa yang membedakan? adalah kehalusan serta keluwesan huruf-huruf yang tergores padanya.
Terlebih lagi bila format dasarnya adalah GAMBAR dan LOGO yang pada umumnya sangat membutuhkan komposisi dan perpaduan lengkungan garis serta bidang gelap terang yang akan menjadi unsur utama keindahan dalam sebuah setempel.
Kini, setelah era mulai berkembang, hampir-hampir kemampuan olah grafis dan gambar dalam diri seseorang tidak lagi banyak dibutuhkan, tidak lagi menjadi syarat utama seseorang untuk menjadi pembuat setempel. Di era digital, semua tuntutan itu hampir bisa di manipulasi oleh komputer.
Saya katakan hampir-hampir karena memang tidak sepenuhnya hal itu bisa difasilitasi dengan komputer. Sekali lagi untuk masalah rasa dan harmonisasi saya pikir masih sangat berperan.
Sebagai gambaran untuk masalah ini kita di era komputer dapat menentukan dengan besaran angka-angka digital, namun tentu tidak sembarang menentukan angka digital. Kita tetap perlu merasakan baru kita tentukan besaran digital tersebut, maka komputer sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan kita akan kita peroleh.
Kini dengan semangat baru, Setempel Orok kembali hadir dengan langkah-langkah pendekatan sistem digital. Sistem manual harus ditinggalkan, saat sekaranglah rasa dan harmonisasi tersebut dituangkan dan disenyawakan dalam nafas digital.
Akhirnya ...... siapa pesan - siapa pesan yo......
Par
a personel Orok