13 Februari 2009

Orok yang Bukan Bayi


Besar karena persahabatan dan tumbuh dalam persahabatan.

Orok bermakna bayi dalam terminologi bahasa Indonesia. Bayi yang baru saja dilahirkan dan padanya belum ternoda oleh segala pikiran-pikiran ataupun konsep-konsep hidup dari luar, selain hanya apa yang telah ditetapkan atasnya oleh sang Pencipta, dan tentu saja itu semua menjadi misteri bagi manusia.

Orok kami ambil sebagai nama bukan mengambil dari terminologi tentang bayi itu sendiri.

Orok memang sudah terlahirkan.

Terlahir oleh “perkawinan” pemikiran sahabat-sahabat yang ingin mengaktualisasikan kebisaan masing-masing dalam wadah aktifitas bersama.

Orok, kini bukannya tidak ada, namun karena prestasi para sahabat ini yang mengharuskan anggotanya sibuk dengan dunianya.
Dan kini , didorong semangat yang pernah menggelora dan cukup memberi warna di lingkungan kami, ingin rasanya nama ini bergaung kembali, apapun bidangnya.

Sebagai salah satu bagian dari Orok, dengan kemampuan yang ada pada kami, maka saat ini ingin rasanya Orok bergema, dan terlahir kembali.

Stempel merupakan salah satu bidang yang saat terlahirnya Orok menjadi sangat dominan mewarnai aktivitasnya di kota Boja dan sekitarny
a. Berawal dari nama RAGIL, mengambil dari status saya sendiri sebagai bungsu dari enam bersaudara.
Pada masanya stempel Ragil menjadi satu-satunya pusat jasa pembuatan stempel di kota Boja. Pada waktu itu pengerjaan masih menggunakan sistem manual, yaitu dengan tehnik kriya, memahatkan mata pisau pada selembar karet, menurutkan garis-garis yang membentuk pola, baik itu berupa tulisan ataupun gambar/logo.
Bukan pekerjaan mudah untuk saat itu, sehingga tidak berlebihan kiranya dalam pembuatan sebuah stempel bukan hanya dibutuhkan ketelatenan dari pembuatnya, namun lebih dari itu, rasa serta harmonisasi antar unsur yang ada dalam rangkaian stempel menjadi sangat dibutuhkan.

Jika dalam sebuah setempel dengan corak dasar berupa tulisan, mungkin lebih mudah. Ya, mudah memang, mungkin banyak jasa yang bisa memberikan layanan itu. Apa yang membedakan? adalah kehalusan serta keluwesan huruf-huruf yang tergores padanya.
Terlebih lagi bila format dasarnya adalah GAMBAR dan LOGO yang pada umumnya sangat membutuhkan komposisi dan perpaduan lengkungan garis serta bidang gelap terang yang akan menjadi unsur utama keindahan dalam sebuah
setempel.

Kini, setelah era mulai berkembang, hampir-hampir kemampuan olah grafis dan gambar dalam diri seseorang tidak lagi banyak dibutuhkan, tidak lagi menjadi syarat utama seseorang untuk menjadi pembuat setempel. Di era digital, semua tuntutan itu hampir bisa di manipulasi oleh komputer.
Saya katakan hampir-hampir karena memang tidak sepenuhnya hal itu bisa difasilitasi dengan komputer. Se
kali lagi untuk masalah rasa dan harmonisasi saya pikir masih sangat berperan.
Sebagai gambaran untuk masalah ini kita di era komputer dapat menentukan dengan besaran angka-angka digital, namun tentu tidak sembarang menentukan angka digital. Kita tetap perlu merasakan baru kita tentukan besaran digital tersebut, maka komputer sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan kita akan kita peroleh.

Kini dengan semangat baru, Setempel Orok kembali hadir dengan langkah-langkah pendekatan sistem digital. Sistem manual harus ditinggalkan, saat sekarangl
ah rasa dan harmonisasi tersebut dituangkan dan disenyawakan dalam nafas digital.

Akhirnya ...... siapa
pesan - siapa pesan yo......

Par
a personel Orok

14 Januari 2009

PNS Tidak Cocok Untuk …

Saya waktu itu menjelajah blog, yang ternyata (mungkin) adalah pemilik situs ILMUKOMPUTER. COM. Ada yang menarik dalam artikelnya, dan mungkin akan menjadi motivator bagi sebagian orang terutama para pemuja PNS. Saya 'replay' bukan karena saya karyawan swasta yang tidak berkesempatan meraih Jenjang PNS, karena saya juga dulu termasuk pejuang (yang mencoba lewat jalur apa adanya), sehingga muncul anggapan 'yah bisa saja bicara begitu karena aku 'Calon PNS' yang gagal untuk masuk seleksi.'
Yang perlu diketahui bahwa dari artikel ini ternyata si penulis adalah seorang 'PNS Sejati' (versiku), masuk lewat jalur 'brilliant', dan obyektif menilai.
So..... simak saja

salam dari ku - Heri

by Romi Satria Wahono

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), bagi sebagian orang Indonesia adalah sebuah dambaan, meskipun bagi sebagian lagi yang lain mungkin keengganan. Menjadi dambaan banyak orang sehingga antrean pengambil formulir pendaftaran CPNS selalu membludak setiap tahun. Orang merelakan apapun yang dia miliki untuk menjadi seorang PNS, baik uang puluhan juta rupiah, harga diri, dsb. Meskipun sudah ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki masalah rekrutmen PNS, baik melalui hukuman dan perbaikan sistem, tapi tetap saja masalah sogok, suap, atau apalah namanya adalah fakta yang terjadi di masyarakat.

Alhamdulillah saya tidak perlu melewati itu semua, karena kebetulan saya menjadi PNS bukan lewat jalur penerimaan biasa, tapi lewat beasiswa sekolah luar negeri dalam program STAID (sebelumnya bernama OFP dan STMDP) yang diinisiasi pak Habibie. Well, meskipun saya tidak pernah bercita-cita menjadi PNS, saya harus ikhlas melaksanakan perjanjian yang dulu saya buat sebelum berangkat ke Jepang. Dan secara dewasa saya harus mengakui bahwa ini adalah jalur jalan kehidupan saya, paling tidak sampai ikatan dinas 2n+1 saya berakhir ;)

Jujur, saat ini saya merasa fatique, penat dan bosan dengan kehidupan saya sebagai PNS. Mohon maaf bagi rekan-rekan saya sesama PNS, sekali lagi saya tidak bermasalah dengan anda semua, saya cinta anda semua dan sedang berdjoeang seperti anda-anda semua ;) Yang saya penatkan adalah behavior, sistem dan birokrasi yang ada di dalam institusi pemerintah. Biasanya yang menentramkan saya adalah sahabat saya yang lagi nongkrong di jerman, yaitu Made Wiryana yang sering mengatakan bahwa, yang paling gampang itu memang kalau kita memilih berdjoeang di luar, bebas dan tidak terikat. Penghargaan yang besar kepada rekan-rekan yang memilih berdjoeang di dalam institusi pemerintah, membuat inovasi serta perbaikan dari dalam.

Nah saya ingin menshare suatu ide, pandangan dan referensi sebelum saudara-saudara saya tercinta di seluruh Indonesia memilih untuk menjadi PNS. Tentu yang saya sampaikan ini masih bersifat subjektif, masih hanya analisa di satu atau dua institusi pemerintah, dan perlu satu langkah diskusi, survey atau penelitian yang komprehensif sebagai upaya objetifikasi ide. Poin-poin yang saya sampaikan di bawah juga masih bisa ditambahi, dikurangi, dihapus atau bahkan diturunkan kalau muncul desakan di sana sini ;) Mudah-mudahan ide ini bisa jadi gambaran sehingga tidak ada lagi orang yang salah jalan menempuh jalan terjal dan mendaki menjadi PNS, padahal itu sebenarnya tidak cocok untuk dirinya.

Jadi menurut saya, sekali lagi “menurut saya”, PNS tidak cocok untuk orang-orang seperti di bawah:

  1. Orang yang ingin melakukan perubahan, perbaikan, membuat inovasi baru dan berharap itu akan terimplementasikan dalam waktu cepat. Perubahan, perbaikan berjalan lambat karena sistem (baik dalam konotasi baik maupun buruk ;) ) sudah berjalan sangat lama dan turun temurun. Anda mau nekat? anak kemarin sore dan pahlawan kesiangan adalah gelar abadi anda :(

  2. Orang yang tidak suka melihat uang dan anggaran dipermainkan, diputar-putar dan dipatgulipat. Orang yang memandang bahwa permainan anggaran, permainan perencanaan kegiatan adalah kegiatan yang salah, penuh dosa dan akan mendapatkan balasan setimpal di akherat kelak. Perlu dicatat juga bahwa banyak juga ”PNS lurus” yang tidak menyadari bahwa beberapa fasilitas dan honor yang diterima adalah hasil subsidi silang dari kesemrawutan anggaran dan realisasinya.

  3. Orang yang tidak suka sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana atau anggaran yang jauh-jauh hari telah ditetapkan. Dalam rencana anggaran tertulis beli komputer Rp. 20 juta, ternyata harga sebenarnya hanya Rp. 5 juta, dan akhirnya sisanya dipakai untuk keperluan lain yang di luar rencana (honor, tunjangan, beras atau minyak goreng untuk karyawan).

  4. Orang yang tidak tega memalak teman-temannya yang menjadi rekanan bisnis institusinya, dengan meminta kuitansi seharga Rp. 50 juta, padahal nilai pengadaan barang/jasa sebenarnya hanya seharga Rp. 25 juta. Si rekanan bisnis ini karena marginnya kecil, jadi ngemplang pajak, karena memang dia tidak menerima duwit sebesar itu. Perusahaannya bangkrut karena nggak kuat bayar pajak, akhirnya dia buat perusahaan lagi dan ngurus jadi rekanan lagi. Muter-muter terus coi … :(

  5. Anak muda yang cerdas, berwawasan dan bisa mengeluarkan dan merangkumkan ide (pendapat) yang lebih brilian dan strategis daripada eselon diatasnya (eselon 4, 3, 2, 1) atau bahkan seorang menteri. Si anak muda ini ketika bertemu dengan bos yang tidak tepat akan disebut bahwa idenya terlalu strategis dan kurang tepat dengan golongannya yang rendah dan cocok untuk permasalahan teknis ;)

  6. Orang yang tidak suka dirinya dan hasil kerjanya dinilai hanya dari absensi. Atau lebih lagi bagi orang yang tidak bisa kerja kalau sebelum kerja harus njeglok mesin absensi ;) Apa yang anda perbuat, membuat proposal setebal kamus oxford, kerja lembur sampai subuh, membuat kerjasama dengan institusi atau organisasi di luar negeri, atau mengharumkan nama institusi karena anda berprestasi di luar, semua tidak akan dipandang kalau absensi anda jeblog. Kalau anda protes, maka anda akan diminta membaca UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dan PP No 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Kalau perlu bacanya sambil nyungsep di laut saja mas … :(

  7. Orang yang merasa kurang apabila bekerja sehari hanya 4 jam. Karena kemungkinan anda akan datang jam 8 pagi, njeglok absen, sarapan pagi sambil ngobrol sampai jam 10. Istirahat siang jam 12, kembali ke kantor jam 13:15, dan adzan sholat ashar jam 15:15 merupakan bel pulang kantor.

  8. Orang yang memiliki jiwa enterpreneur dan selalu melihat segala peluang sebagai peluang yang kemungkinan bisa menjadi bisnis. Ketika jiwa enterpreneur ini diimplementasikan di tempat yang tepat hasilnya akan positif, tetapi apabila diimplementasikan di institusi pemerintah tempat bekerja, bisa jadi sumber korupsi yang maha dahsyat dan mengerikan. Orang ini diharapkan ketika melihat berjubelnya pendaftaran PNS dan mendengar keluhan 4 juta PNS di Indonesia tentang gaji mereka yang rendah selalu berpikir untuk mempunyai perusahaan dan bisa membuka lapangan kerja baru bagi 4 juta orang di Indonesia. Mungkin posisi itu lebih tepat.

Saya yakin bahwa sebagai anak bangsa, baik posisi kita ada di dalam maupun di luar institusi pemerintah, kita ingin dan sama-sama berdjoeang membuat republik kita ini lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera dan disegani bangsa-bangsa lain. Seperti yang sudah saya sitir diatas, kadang PNS bukanlah pelaku, tetapi sebenarnya juga menjadi korban. Masih banyak “PNS-PNS lurus” yang siap melakukan perbaikan di negeri ini. Mari kita melakukan perbaikan semampu kita, baik dengan lisan, hati maupun dengan tangan. Dan jangan lupa untuk mensyukuri segala nikmat dan keadaan yang sudah Allah berikan kepada kita.

Wallahualam bisshawab.

ttd-small.jpg